About these ads

Cerita Tentang Bangunan Minimarket dan Makam Yang Saya Temui . . .

DSC03514

Ternyata memang benar jika pembangunan di suatu daerah akan dibarengi dengan faktor lain yang mengikuti. Seperti yang saya lihat pagi dan siang tadi (Jum’at, 1/2/’13)  , memang sih saya sudah lama tidak kembali ke daerah tempat dimana saya berdomisili semasa sekolah dulu. Namun apa yang saya lihat hari ini membuat saya berpikir bagaimana pembangunan itu terkadang membuat kejam lingkungan sekitar.

Di daerah dimana saya berdomisili, tahun kemarin masih ada sebuah mushola yang berukuran tidak terlalu besar. berdesain tua karena sudah dari era 90-an tempat ibadah itu dibangun.Setahu saya hak milik mushola itu diserahkan turun-temurun dari generasi lama. Bukannya lebay, tapi memang mushola itu sederhana, desain klasik khas tempat ibadah jaman dulu, di dalamnya tergantung rak-rak sederhana yang dikaitkan ke tembok menggunakan kawat. Diatasnya terdapat beberapa Al-Qur’an yang sudah tampak lusuh termakan usia. Mushola itu dimanfaatkan warga sekitar untuk ibadah…. yaa meski paling ramai hanya saat bulan ramadhan tiba. Itupun tingkat keramaian dan kesejahteraan mushola tersebut mengalami puncaknya saat solat tarawih dan tadarus. Di luar bulan ramadhan, mushola itu seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Itu yang saya perhatikan sejak jaman SD sampai lulus SMA beberapa tahun lalu.


DSC01815

Saat saya mudik, heran saat melihat bangunan mushola tersebut kini disulap menjadi sebuah minimarket. Sisa reruntuhan mushola itu masih ada disekitar bangunan yang berdiri kokoh dengan warna cat putih dipadu degan warna merah dominan. sebuah minimarket kembali “menjajah” daerah yang jauh dari perkotaan. Kalau ingat mushola itu, mungkin tanah bangunan tua tersebut dijual oleh si pemilik tanah sebagai pemegang hak waris. Entah pertimbangan apa saja yang dipikirkan, yang jelas di dalam hati merasakan hal yang kurang sreg melihat tempat ibadah yang diubah jadi tempat perbelanjaan yang belun tentu mensejahterakan masyarakat sekitar.

Pemandangan lain kembali saya temukan usai solat jum’at, dimana disamping masjid tersebut terdapat kompleks pemakaman yang makin lama makin padat saja “penduduknya” . Iseng setelah solat jum’at saya celinguk’an memperhatikan rumah masa depan tersebut. Di dekat salah satu makam, ada kerukan tanah yang lebih seperti tempat pembuangan sampah dibiarkan terbuka lebar. Dan memang diatas tanah kerukan tersebut ada sampah yang menumpuk , meski tidak terlalu banyak.

DSC01097

Bayangkan saja, tepat disamping tanah kerukan tersebut ada satu makam yang sudah diberi cover (istilah kerennya begitu, saya lupa namanya apa, pokoknya tujuan diberi cover tersebut agar makam lebih mudah dikenali). Meski makam tersebut sudah dilapisi bahan yang kuat, tapi bagian bawah cover tersebut tampak mulai tergerus tanah kerukan disampingnya. Terlintas dipikiran, bagaimana jadinya kalau tanah tersebut tergerus semakin parah, apa tidak mengganggu “yang sedang istirahat” di makam tersebut. Wallahualam… :?

Hari jumat yang penuh dengan hal yang pantas untuk direnungkan. :|

(#75)

*nb : semua foto hanya ilustrasi

About these ads

Posted on 02.02.2013, in My Stories, Reflection | Religi. Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. wah parah banget tuh

  2. itu kijing mas, bukan bed cover lho :)

  3. ya Allah, memang berat rasanya mendapat suatu amanah dan warisan dari leluhur kita berupa tempat ibadah, apalagi disaat – saat seperti ini, tanah menjadi suatu hal yang sangat mahal, harus kuat-kuat iman untuk menjaganya. alangkah baiknya jika ingin mewariskan/ mendapat warisan tempat ibadah seperti itu diwakafkan dan semua anak cucu yang masih hidup diajak rembukan.

    Mushollla warisan itu bagai sumber mata air yang tidak akan habis pahalanya, bagi mereka yang membangunnya, pahalanya akan terus terkirimkan ke beliau2 yg sudah meninggal, selama musholla/ masjid tersebut masih dipergunakan.

    #mbahku nduwe tinggalan masjid mas.

    • Saya juga heran mas, baru kali ini saya lihat sendiri tempat ibadah dialihfungsikan. . .
      mungkin yang punya hak milik atas bangunan itu punya alasan sendiri untuk ngejual tanahnya. . . :roll:

  4. yo inilah bro mirisnya pembangunan modern
    pembangunan harusnya menyenangkan bagi semua orang
    bukan menggusur tempat ibadah sama menggotori makam :(

  5. Kalo trendnya sih,tanah sekolah yg diambil lagi ama yg punya

  6. Yudakuzuma

    heran, bukannya tempat ibadah itu nggak boleh digusur ya? :neutral:

  7. terkadang memang terasa kejam..efek semakin berkurangnya lahan, bangunan lama yang ada apapun itu dibayari dan diganti bangunan untuk bisnis.. :|

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 166 other followers

%d bloggers like this: