Advertisements

Konsep Self Service di SPBU Malaysia . . Indonesia juga bisa tuh

Berita pengklaiman Malaysia terhadap Tarian Tor-Tor milik suku Batak menjadi Headline di berbagai media saat ini, negara kita kembali ribut terkait persoalan budaya yang kembali jadi persoalan. . . apa pemerintah tidak malu budaya kita lagi-lagi diakui oleh negara tetangga untuk yang kesekian kalinya. Tapi semua pemberitaan itu janganlah langsung diterima mentah-mentah, perlu kita cermati lebih dalam apakah ada unsur lain dibalik berita yang mayoritas masyarakat menanggapinya sebagai kabar yang mempermalukan Indonesia (lagi). . . ingat kita harus kritis dalam menanggapi suatu informasi., bisa jadi ini suatu kesalahpahaman dalam mengartikan berita sebenarnya (miss understanding).

Pemberitaan media tentang Malaysia membuat saya tertarik dengan sisi lain negara itu terlebih lagi mengenai sistem transportasi disana. . . dan saya menemukan berita dari detik.com mengenai konsep SPBU dalam melayani setiap konsumen di negeri jiran tersebut.

Pemerintah Malaysia masih memberikan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) disana, sampai artikel ini ditulis, BBM dengan RON 95 (setara Pertamax) masyarakat hanya perlu membayar 1,90 Ringgit atau sekitar Rp 5.700 . . sedangkan RON 97 (setara Pertamax Plus) 2.90 Ringgit atau sekitar Rp 8.700.  Di setiap SPBU, masyarakat bisa melakukan pengisian bahan bakar sendiri, beda dengan disini  . . . petugas biasa bilang “motornya mau diisi berapa liter mas?”, “dimulai dari nol yaa. . ;)“, “Waduh! gag ada uang kecil mas ?!” 😕

Meski masih memakai BBM bersubsidi, Malaysia menerapkan transparasi terkait harga . .  misal untuk bahan bakar oktan sekian, di setiap SPBU ditunjukkan keterangan berapa harga jual sebenarnya bahan bakar tersebut, berapa harga yang dilepas ke masyarakat, harga subsidi serta biaya cukai yang dikeluarkan pemerintah Malaysia. . sehingga dengan data yang diberikan, masyarakat diharapkan bisa lebih tahu asal muasal harga BBM yang mereka bayar.

Konsumen disana terlebih dahulu membayar uang mereka kepada kasir yang ada di supermarket mini di SPBU. Setelah itu konsumen sendiri yang mengambil selang pengisi bahan bakar  . .  kemudian disemprotkan ke badan sendiri lalu sulut dengan api dihubungkan dengan kendaraan, maka mesin akan otomatis mengisi dan akan berhenti jika telah mencapai nominal yang dibayar oleh konsumen tersebut.

Bagaimana jika konsep seperti itu diterapkan di Indonesia ? pasti bisa! tapi butuh sosialisasi secara massive agar masyarakat tidak kaget dengan konsep pelayanan seperti itu . . . dan lagi untuk permulaan mesti ada penjaga yang mengawasi, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, cmiiw. Menurut  saya di negara kita konsep ini sebenarnya sudah dilakukan, sering saya lihat konsumen beli bensin eceran dan mereka dengan santainya mengisi bensin sendiri tanpa takut bensinnya tumpah tidak pada tempatnya. :mrgreen: atau mungkin ada pendapat lain yang lebih masuk diakal? 😆 (#75)

Advertisements

Posted on 24.06.2012, in Otomotif and tagged , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. kalo dterapkan diindonesia bisa2 SPBU macet… :mrgreen:

  2. beraatt kalo diterapkan di sini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: