Advertisements

Misunderstanding . . . Menyikapi ‘Pengklaiman’ Budaya Batak oleh Malaysia

Berita mengenai tindakan Malaysia yang dituduh mengklaim Tarian Tor-Tor asal batak dan alat musik Gondang Sambilan yang berasal dari Mandailing patut dicermati lebih dalam.  Hal ini karena ada indikasi berita tersebut termasuk kategori salah paham atau miss understanding. . .  berita yang tersebar selama ini, Malaysia berencana mendaftarkan dua budaya asal Sumatra Utara yakni tari Tor-Tor dan Paluan Gondang Sambilan dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.

“Mengenai tari Tor-tor ini, jawaban sementara dari kedutaan memang tidak ada klaim dari Malaysia atas tari Tor-tor. Namun, pengakuan Pemerintah Malaysia atas komunitas Mandailing.” Demikian jawaban dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring kepada Kompas.com, Sabtu, 23 Juni lalu.

Menurut Pak Tifatul, klaim yang dimaksudkan adalah pengakuan  . . . Yang dimaksud pengakuan disini, pemerintah kerajaan Malaysia mengakui keberadaan komunitas Mandailing (salah satu di Sumatra Utara) termasuk seni dan budayanya. Karena komunitas ini sudah lebih dari 70 tahun tinggal di Malaysia. Jadi kurang lebih sama dengan yang dilakukan pemerintahan era Gus Dur,  dimana pada saat itu kebudayaan masyarakat thionghoa (termasuk atraksi barongsai dan hari raya imlek) telah diakui pemerintah Indonesia, kemudian pada era Megawati imlek dijadikan sebagai hari libur nasional, cmiiw . .Jadi, bukan berarti barongsai ataupun kungfu diklaim sebagai budaya asli Indonesia kan ? 😮

Dengan adanya pengakuan dari Malaysia, tarian Tor-Tor bisa dipertunjukkan di level nasional di negara tersebut. .  Lagi pula menurut Pak Tifatul, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mendaftarkan warisan kebudayaan Indonesia tersebut ke UNESCO. Saya masih belum tahu pendaftaran budaya tersebut dilakukan pra atau pasca munculnya berita ‘pengklaiman’ ini . . 🙄 Sebelumnya pada hari Rabu, 20 Juni, Norlin binti Othman selaku Konsul Jenderal Malaysia di Medan berpendapat

Diperakui atau memperakui di Malaysia dimaksudkan diangkat atau disahkan atau disetujui, bukan diklaim seperti yang diartikan di Indonesia. Masalah pengartian kata atau kalimat memang tampaknya sering menimbulkan masalah, tetapi dengan penegasan seperti ini, saya harap tidak ada masalah lagi.”

Akibat dari adanya kesalah pahaman ini, tahu sendiri kita sebagai orang Indonesia pasti geram akan kelakuan Malaysia (Internet  lebih mengenalnya sebagai Malingsia, atau apalah itu) .  .  ancaman berdatangan dari berbagai pihak, seperti yang disuarakan Perhimpunan Penyelamat NKRI (PPNKRI), “.Jika Malaysia tak segera mencabut klaim tersebut, maka ribuan orang akan berunjuk rasa di depan Kedubes Malaysia dan menyerukan lebih baik Perang!” –kurang lebih seperti itu yang mereka suarakan- . Para tokoh Batak juga tegas melakukan perlawanan atas ‘rencana pengklaiman’ ini, Karena hal itu sama saja dengan pelecehan terhadap leluhur orang Batak yang mewariskan budaya tersebut secara turun temurun.

Tapi meski Malaysia hanya melakukan ‘pengakuan’ terhadap Tarian Tor-Tor dan Gondang Sambilan, pemerintah Indonesia (dalam hal ini Menteri Luar Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, cmiiw) harusnya melakukan pemetaan dan inventarisasi serta mempatenkan semua kebudayaan Indonesia yang ada supaya tidak terjadi lagi dan lagi pengklaiman budaya oleh negara lain. . . Meskipun ini hanya masalah kesalah pahaman, tapi bukan berarti negara kita aman, Indonesia perlu menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang dimilikinya , terlebih kita sebagai masyarakat, jangan malu ditertawakan teman kalau mungkin ada diantara kita senang mendengar tembang jawa, atau musik keroncong. Orang Belanda aja bisa nyinden, masak kita gag bisa. 😐 (#75)

Advertisements

Posted on 26.06.2012, in My Stories and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Yudakuzuma

    lebih tepatnya harus semakin disosialisasikan yang namanya budaya daerah itu…. banyak loh yang nyaris punah, nah kalo sebelum punah udah dicolong kan berabe….

    • promosi di setiap daerah tentang kebudayaannya bisa jadi salah satu cara., .
      ., orang indo itu sukanya ada masalah dulu baru diperhatiin 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: