Advertisements

Cerita Tilang : Antara Polisi Bali dan Ahmad Yani

3

Melihat para polisi di pagi hari yang sedang mengawasi kendaraan yang melintas. Kemudian ada beberapa pengendara motor yang disuruh berhenti, mengingatkan saya dengan video oknum polisi di Bali yang videonya sempat heboh di youtube beberapa waktu lalu. Bukannya suuzon atau gimana, kebanyakan kalau pengendara motor dicegat dan dibawa kedalam pos, disitulah awal mula ‘negosiasi’ berlangsung. Ya, kebanyakan seperti itu.

Kalau kita lihat video berjudul ‘Polisi Korupsi di Bali / Corruption police in Bali‘ , si bule yang tidak pakai helm diajak masuk oleh polisi yang bertugas. Di dalam pos tersebut  pak polisi (langsung sebut nama saja ya)  Aipda Komang Sarjana memberikan penawaran kepada  Van Der Spek, yang ternyata seorang jurnalis asal Belanda. Penawaran tersebut yakni bayar di pengadilan Rp 1.250.000 , atau titip sidang dengan cukup bayar 200 ribu. Van Der Spek menyetujui membayar 200 ribu, kemudian si jurnalis yang punya program acara tivi ‘Oplichters in het Buitenland’ di SBS6, TV Belanda tersebut mulai bertanya kepada Pak Komang sudah berapa turis yang terkena razia di wilayahnya. Obrolan memang santai, tapi pasti tak akan santai kalau polisi di dalam pos tersebut tahu ada kamera tersembunyi. Parahnya lagi, Pak Komang selaku polisi yang tengah bertugas tersebut justru mengajak si bule minum bir bersama dengan uang hasil tilang tadi.

4

Video yang pengambilan gambarnya dilakukan November 2012 lalu itu sebagai contoh itulah yang dilakukan oknum polisi yang ‘beraksi’ dengan dalih mengajak korban ke dalam pos polisi. Kalau didalam kan aman, gak ada yang tahu 😉 . Masalahnya bung, itu sudah jadi rahasia umum . Kasus perundingan ‘tertutup’ didalam pos polisi juga pernah saya alami. Tepatnya di daerah jl. Ahmad Yani Surabaya. Dimana kesalahan saya waktu itu, salah jalur. Harusnya saya ambil jalur kiri untuk terus, tapi malah ambil jalur kanan dulu baru kekiri, ya langsung dicegat 😕 .

Kemudian saya diarahkan ke dalam pos dan diajak berunding disana. Sebagaimana pengendara lain yang terkena razia, pastinya ada muka tegang di interogasi dengan dua orang polisi sedangkan posisi kita terpojok. Tapi saya berusaha santai sambil mendengarkan penjelasan dari pak polisinya. Dijelaskan bahwa anda salah mengambil jalur, kemudian ditunjukkan pasal-pasalnya, lalu yang terakhir . . . sanksi. Saya diberitahu akan menjalani sidang di daerah ~!%*(^^&%%$%$# . Karena asing dengan nama daerah itu, saya langsung lupa, serius.

ilustrasi

Jujur disinilah saya merasa dihadapkan dua opsi sulit. Antara mengikuti sidang di pengadilan yang saya pun baru kali itu mendengar nama daerahnya atau ‘titip di tempat’ . dihadapkan situasi seperti itu cukup membingungkan. Kemudian saya bilang kalau saya bukan warga surabaya, pak polisi tersebut langsung menunjukkan daftar pengendara yang kena tilang di hari itu, kebanyakan memang dari daerah luar, bahkan ada pemilik SIM yang dari Lombok, buseet jauh.

Mempertimbangkan berbagai faktor eksternal dan internal, serta dengan pertimbangan yang matang, untuk kali ini saya putuskan untuk ‘titip’ sidang. Polisi tersebut bilang saya mesti bayar dengan nominal yang sama dengan denda minimal, 100 ribu.  Berhubung saya sendiri waktu itu tidak bawa uang banyak, separuh nilai denda itupun tak sampai. Maka setelah melalui perundingan yang alot, disertai dengan permainan kata-kata dengan bahasa tubuh meyakinkan, akhirnya saya bisa ‘titip’ dengan nominal yang tak sampai separuh dari denda yang disebutkan. Dan akhirnya saya keluar pos dengan rasa sebal disertai lega. Lega karena masalah selesai, sebal karena uang yang tersisa buat beli bensin seliter pun tak cukup 😕 #ItIsMbonek.

Memang tidak semua polisi mengajak ‘berunding’ di dalam pos, ada yang memberikan ‘penawaran’ langsung dilokasi. Tapi bagaimanapun juga, cara ‘damai’ seperti itu tetap saja salah. Dihadapkan dengan situasi yang membingungkan terkadang membuat kita mengambil jalur melawan hukum. Di satu sisi kita tidak mau direpotkan, disisi lain kita seperti menghianati negara.  Diluar faktor kesengajaan Van Der Spek sebagai jurnalis yang ingin membuktikan sendiri praktek ‘damai’ tersebut  , persamaan kasus tilang di Bali dengan di ahmad yani, Surabaya, terletak pada kesimpulan yang sama, pengendara kendaraan tidak ingin repot dengan status sebagai  tersangka tilang, dan  polisi juga mendukung dengan statusnya sebagai PHP (Pemberi Harapan Pasti).

(bfa)

Tenang, masih ada “alternatif” ke empat 😎

Advertisements

Posted on 16.04.2013, in My Stories and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 12 Comments.

  1. alternatif ke 4 ?????? 😀

  2. saya juga pernah ngalamin dulu,bro..jaman alay.. 😀 di pos pemeriksaan pelabuhan gilimanuk ketika hendak menyebrang ke jawa dari bali..yang di permasalahkan adalah plat nomor wktu itu,kronologisnya sama,di ajak ke pos..,lalu di tanya sidang atau titip..tapi gak pakai minum bir.. 😀

  3. sama-sama untung

  4. namanya juga oknum

  5. Hmzzz,oknum polisi itu mikirin apa sih???

  6. mileh alternatip yg ke tiga ajaa brooow….

  7. alternatif yang ketiga itu belum tentu masuk ke kas negara sob…dulu ada yang katanya ikut sidang, tapi ternyata bayar dihadapan hakim, uang masuk tas, dan ambil sim nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: