Advertisements

Antara “29 My Age” dan Kasus Pemalsuan Gelar Sebagai Simbol Intelektual

Twenty nine my age’ dan berbagai kalimat sakti lain yang dipopulerkan Herdianto atau lebih dikenal dengan nama Vicky Prasetyo, seolah menyadarkan kita akan mindset bahwa orang berpendidikan tinggi punya tempat istimewa di masyarakat. Orang yang punya gelar lebih dihormati ketimbang mereka yang (maaf) hanya lulusan atau malah tidak tamat sekolah. Meskipun kita sendiri tidak tahu apakah benar orang yang kita sangka berpendidikan tinggi itu memang benar “tinggi” atau “tinggi-tinggian” ?. Berkaca pada kasus si Vicky yang mengaku S3 tapi nyatanya publik bisa menilai sendiri.

Sebenarnya latar belakang pendidikan bisa tertutupi dengan kesuksesan karir.  Tetapi budaya masyarakat Indonesia menganggap orang dengan gelar sarjana, magister, doktor, dan lain-lainnya itu sebagai suatu keistimewaan. Adanya pemikiran seperti ini secara tidak langsung berhubungan dengan pembohongan publik tentang pemalsuan gelar yang sudah lama dan masih terjadi sampai saat ini. Sering kita dengar di berita pejabat pemerintahan terbukti melakukan pemalsuan ijazah, demi lolos persyaratan kerja atau hanya sebagai peningkatan status sosial.

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) bersama kepolisian beberapa waktu lalu menangkap para pelaku pembuat ijazah palsu yang menawarkan jasa pembuatan ijazah via web profesional . Dikatakan profesional karena web tersebut menggunakan domain berbayar. Selain itu di halaman depan mencantumkan nomor handphone yang bisa dihubungi 24 jam. Di web itu juga secara terang-terangan menulis bisa membantu siapa saja yang kesulitan untuk kuliah karena terbentur jam kerja, drop out dan takut dimarahi oleh orangtua, ingin memperbaiki nilai IPK, atau yang ingin memperoleh ijazah baru untuk pindah perusahaan karena ijazah yang lama ditahan oleh perusahaan sekarang. (Lebih lanjut baca di artikel Kompas Edukasi disini).

Web atas nama PT Mitra Consultant itu tidak hanya “menyediakan” gelar dari berbagai universitas, tapi juga dari semua jenjang, termasuk D3 sampai S3 . Selain itu mereka  juga menerima permintaan ijazah tidak dari jurusannya. Lulusan teknik pertanian berpindah jadi lulusan teknik arsitektur misalnya. Masih merujuk sumber yang sama, tarif yang ditawarkan situs perusahaan yang ternyata sudah berdiri sejak 1996 tersebut secara jelas tertulis.  Untuk ijazah D-3,  dipatok Rp 20 juta, khusus D-3 Kebidanan atau Keperawatan, Rp 80 juta. Untuk ijazah pindah jurusan dari kebidanan ke kedokteran, dipatok dengan herga paling mahal, yakni Rp 279 juta. Tarif itu termasuk termasuk biaya pembuatan skripsi, tesis / tugas akhir, transkrip nilai, legalisasi nilai induk mahasiswa (NIM), dan nomor seri ijazah yang terdaftar di Kopertis atau Kementerian Pendidikan dan nomor seri dari universitas yang bersangkutan.

Sedangkan Ijazah S-1 dihargai Rp 37 juta, S-2 Rp 50 juta. Ijazah S-3 atau doktor Rp 250 Juta. Untuk pemesanan sebagai lulusan kampus tertentu yang terkenal atau yang punya nama besar, calon pembeli ijazah wajib ikut kuliah selama beberapa bulan saja. Hal ini mengingatkan saya akan kasus pejabat pemerintahan yang memiki gelar S-1 namun masih rancu antara tahun lulus dan umur pejabat bersangkutan. Karena gelar tersebut masih baru disahkan, sedangkan pejabat bersangkutan mengaku sudah lama menerima gelar tersebut. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, ijazah memiliki civil effect yang membuat seseorang diakui dan dapat diterima bekerja di sebuah perusahaan. Bahkan mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) atau pejabat negara. Oleh karena itu ijazah palsu yang digunakan akan merugikan banyak pihak ( baca : Ingat..Bisnis.Ijazah.Palsu.Terancam.Sanksi.Pidana ) .

Selama budaya di masyarakat masih menilai seseorang dilihat dari gelar bukan dari kemampuan, selama itu pula cara ini ditempuh. Bagaimana tingkat intelegensi seseorang diukur dari seberapa tinggi gelar yang dimiliki, tak peduli diraih dengan cara apapun. Apa harus lewat ucapan saja agar terlihat seperti seorang berintelek tinggi ? contohlah Vicky, memang ia tahu bagaimana memanfaatkan situasi dan kondisi.  Tapi kini ia hanya bisa berpasrah diri, menerima kenyataan karena ulahnya sendiri.

(bfa)

Advertisements

Posted on 23.09.2013, in College|School and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 8 Comments.

  1. Ya itu la Mas,, Nasib negara ini.. setuju jg dengan pendapat tantang : Pada dasarnya kemampuan / skil keahlian pada bidang tertentu itu perlu tampa harus dg ijasah. Namun pada kenyataan seperti itu.

  2. sudah diajar, dididik, ditanamkan bahwa “Nilai” yang hanya berupa angka itu lebih bernilai daripada kemampuan sebenarnya. Sehingga jangankan membeli ijazah S3 yang sudah level tinggi, mencontek saat ujian kenaikan kelas dilakukan agar tidak dimarahi orang tua karena Nilai jelek dan mendapat “predikat” pintar.
    Pondasinya sudah didesain seperti itu. Hasil jadi seperti itu pula.

  3. wow….tulisannya bagus Bay

  4. Kegilaan mengejar gelar di masyarakat untuk mempermudah karir (dan bukannya ilmu) adalah akibat dari diberlakukannya aturan jenjang karir di PNS yang selalu meningkatkan jabatan dan pendapatan berdasarkan jenjang pendidikan (dan bukan prestasi) akibatnya ya begini jual-beli gelar marak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: