Advertisements

Piket Nol , Jalur Cornering Berteman Kokohnya Semeru

DSC03988

Melintasi jalur Malang-Lumajang via piket nol membawa sensasi tersendiri saat riding. Mungkin ada yang pernah atau bahkan sering lewat sana ya. Piket nol itu kawasan yang kalau dari Turen, Malang sekitar 59 km, sedangkan dari Pasirian, Lumajang sekitar 15 km. Awal saya tahu daerah sini tidak lain dari rasa penasaran karena rekan-rekan saya sering cerita kalau lewat daerah piket nol itu pemandangannya bagus. Semakin penasaran tatkala di internet saya temukan banya info tentang kawasan ini. Pertama berangkat kesana dari Malang kota dan hanya modal secarik kertas berisi catatan agar tidak tersesat di jalan. Gak pake ji-pi-es ? . . . tidak, saya lebih suka cara lama, kalau kesasar ya tinggal tanya 😎 .

Rasa puas dan takjub melihat jalanan berkelok mengajak untuk latihan cornering berteman sejuknya udara siang, meski disana juga banyak truk pengangkut pasir dan bus kecil yang melintas (dari Malang, ada jurusan Gadang-Lumajang).  Kawasan piket nol ini kenapa dinamakan demikian karena dulu pas jaman kompeni, jalur ini dipakai pemerintah kolonial untuk memeriksa setiap angkutan yang membawa hasil bumi. Jalur ini dipilih karena dapat menghubungkan dua daerah dengan waktu cepat. Piket berarti menjaga , nol artinya kosong. Jadi disana dulu ada pos jaga yang sering ditinggal penjaganya, jadi posnya kosong. Penjaganya bolosan kali’. Ya setidaknya itu yang saya pahami dari yang saya baca di google.

Jalur ini menghubungkan jalan sebelah timur dan tenggara gunung semeru. Dikawasan daerah ini juga terdapat tempat wisata lain, goa tetes, tapi saya belum tahu jalannya lewat mana. Oke jadi dulu pertama lewat piket nol, melintasi dampit, jalur sudah berkelok-kelok, tak lupa waspada dengan kondisi yang ramai dan jalan yang berlubang. Setiap tikungan menantang untuk diajak ‘rebahan’, dalam artian menikung sewajarnya tapi berasa di sirkuit. Karena semakin jauh jalanan makin sepi dan naik turun, jadi saat nikung sensasinya beda. Sekitar satu jam berkendara saya melihat jembatan yang berdiri tegak di atas sungai tempat aliran lahar semeru mengalir.” Jadi ini daerah piket nol! wih!”. Setelah menepikan motor, saya melihat pemandangan yang subhanallah menyejukkan mata. Meski hanya sebuah jalan,  tapi jalur itu membuat perasaan bisa lebih tenang,

DSC04261

Didepan saya terhampar sungai aliran lahar semeru yang kaya akan pasir, maka tak heran disana banyak aktivitas penambangan . Jembatan panjang sekitar 65 meter tempat saya berdiri itu bernama jembatan kali koboan, oleh warga sekitar sering disebut ‘Gladak Perak’. Selain dari pemandangannya yang bagus, perhatian saya juga tertuju pada satu jembatan lain dengan desain lama yang letaknya disebelah barat dari jembatan beton itu. Masih dari info yang saya baca di google, ternyata jembatan bernuansa klasik itu dulunya ya jembatan aslinya, dulu dibuat Belanda sekitar tahun 1920-an. Mungkin karena faktor usia dan tidak sanggup menahan beban berat, jembatan itu kini sudah tidak dipakai lagi, dan diganti dengan jembatan beton sekarang ini yang ternyata baru dibangun 2001 lalu. Saya terus melihat jembatan klasik itu dan bertanya-tanya, “Itu jalan kesananya lewat mana ya, kucari kok gak ada”. Mau tanya kewarga sekitar yang lagi buka warung tapi lagi gak mood pas sendirian.

DSC04255-vert

Asal muasal nama gladak perak, dulunya jembatan lama itu dibangun dengan tumbal gelang perak milik seorang penari ledek yang berparas cantik sebagai penolak bala. Nah dari situ muncul nama gladak perak atau jembatan perak. Ternyata selama pembangunan jembatan yang berdiri diatas jurang ini, banyak pekerja tewas karena terjatuh, mengingat desain jembatan yang rumit dan faktor keselamatan yang kurang diperhatikan. Jembatan itu juga pernah diledakkan pada 1947 oleh Zeni Pioner, tujuannya supaya Belanda menghentikan pengejaran pasukan belanda ke daerah pronojiwo. Setelah jembatan itu diresmikan pasca dibangun kembali tahun 1950-an oleh kian siang asal Lumajang, jembatan itu dicat warna silver/perak. Entah apa karena alasan itu juga warga menyebutnya gladak perak, ada dua versi cerita disini.

Sepanjang disana saya membanding-bandingkan apa yang saya lihat waktu itu dengan apa yang saya baca di internet. Termasuk salah satunya fenomena penampakan ketika kendaraan melintas di jalur piket nol tersebut. Kejadian aneh yang sering muncul, saat malam ada orang yang tiba-tiba menyebrang dan mengakibatkan banyak peristiwa kecelakaan di sekitar jembatan itu. Konon jembatan itu tempat pembuangan mayat korban G30SPKI dan korban penembakan misterius.  Ada yang dibuang ke jurang, ada juga yang digantung di tiang jembatan. Biasanya waktu genting seperti itu hilang kalau sudah jam 3 pagi. Itu kata warga sekitar (Baca : Kengerian di balik indahnya jembatan Piket Nol ). Eh kok jadi cerita serem?! , gak pengaruh sih, waktu itu saya disana pas siang hari 😎 .

DSC04258-vert

Oiya saya himbau untuk berhati-hati saat melintas disana saat musim penghujan, pasalnya disana sering terjadi longsor. Pernah lewat sana saat hujan deras, dengan jalan berlumpur menutupi aspal, saya putuskan  menepi disebuah warung . Cuaca mulai cerah kembali dan sambil nyetir saya lihat gundukan batu besar (satu meter lebih) yang ngetem dipinggir jalan. Sepertinya habis jatuh dari atas bukit yang saya lewati waktu itu, mungkin jatuh pagi harinya, ckck. Jadi mending saat hujan berhenti dulu lah. Selain didaerah piket nol, Didaerah kecamatan dekat lereng semeru sana juga sering terjadi longsor. (Baca : 19 Rumah warga di lereng Semeru rusak akibat tanah longsor dan Batu-batu Besar Di Piket Nol Rawan Jatuh Karena Longsor )

Setiap saya melewati kawasan piket nol, terkadang membayangkan apa yang terjadi disana beberapa tahun silam. Yang pasti warisan sejarah itu kini menjadi kebanggaan. Kebanggaan yang letaknya tersembunyi di daerah pinggiran, diantara jalanan curam berteman pepohonan, yang dilindungi kokohnya semeru sebagai saksi bisu.

(bfa)

Jalur melintasi piket nol , pencitraan google earth | courtesy : pisangagung.blogspot.com ( klik untuk memperbesar )

Advertisements

Posted on 02.11.2013, in My Stories, Travel and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. Jembatan dan situasinya keren, banyak terdapat cerita sejarah yang mengasyikan untuk dikaji sebagai bahan pemebelajaran dalam hal pengetahuan. Happy traveling Sob.

    Salam,

  2. wah ini jalur berliku dengan pemandangan yang keren 😀
    kalau dari Sidoarjo jauh gak ya
    hehehe :mrgreen:

  3. indahnya….. jalannya kayanya mulus kang… bisa mereng2 hahahahaha
    http://macantua.wordpress.com/2013/11/02/prides-jamnas-5/

    • gak selalu mulus sih, kadang pinggir aspal juga ada yang rusak. Miring-miring asal gak ada kendaraan didepannya sih gak apa-apa 😀

  4. josssss, kapan-kapan harus dicoba

  1. Pingback: Menelusuri Jalanan Taman Hutan Raya R. Soerjo | Aragani Personal Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: