Advertisements

Ngopi detikINET bareng Telkomsel di UB : “Iklan Pertama di Detikcom 6juta Sebulan”

source: detikINET

Selasa pagi (19/11) saya mengikuti Roadshow Ngopi detikINET yang diselenggarakan di Gedung Rektorat lt.2 tepatnya di gedung pertemuan yang terletak di bagian belakang. Balai pertemuan yang sebenarnya belum diresmikan tersebut penuh dengan atribut detikcom dan telkomsel sebagai penyelenggara talkshow bertajuk ‘Digital Creative Indonesia Competition’ itu. Dimana Universitas Brawijaya (UB) mendapat kehormatan sebagai tempat pertama yang dikunjungi. Sekitar pukul 08: 15 setibanya disana antusias teman-teman mahasiswa terlihat sekali. Antrian pengisian daftar hadir pun panjang mengular.

Di jadwal tertera acara dimulai pukul 8 tepat, tapi inti acara benar-benar dimulai mendekati jam 9, setelah sebelumnya MC berbasa-basi ria menyambut kami. Acara pertama sambutan dari pihak rektorat diwakili Bapak Sutrisno selaku Dekan Program Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer (PTIIK). Narasumber yang hadir diantaranya Adita Ariawati (Vice President Corporate Communication Telkomsel), Budiono Darsono (CEO Detikcom), Dito Respati (Head of Mobile Apps Developer Community Telkomsel), Andi Sururi (Redaktur Pelaksana DetikSport), Ginting Sadtyono (developer Buku Sekolah Elektronik), dan Ardiana Wahyu (Executive Producer Detik TV). Sekitar 200 peserta yang hadir disana mengapresiasi berbagai materi yang disampaikan, hal ini terlihat dari banyak yang mengangkat tangan saat sesi tanya jawab berlangsung.

DSC07809

Digital Creative Indonesia Competition merupakan kompetisi dimana tidak hanya pembuatan aplikasi mobile saja yang dilombakan, tapi juga ada kompetisi pembuatan video kreatif dan kontributor tulisan. Digital Creative Indonesia sendiri merupakan program Telkomsel dalam rangka menggerakkan dan menginspirasi industri kreatif digital dalam negeri. Selain itu sebagai upaya membangun eksistem DNA (Device, Network & Application) secara berkesinambungan, serta dalam rangka menciptakan hubungan harmonis antara Telkomsel, pengembang aplikasi, dan produsen telpon seluler.

Saya akui banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dari enam pembicara hebat itu. Pak Budiono Darsono misalnya,  beliau berbagi pengalaman bagaimana dirinya menjadi pemimpin redaksi sekaligus pegawai tunggal dikala detikcom masih baru berdiri tahun 1998. Waktu itu beliau menyewa kantor seluas 4×4 m di sebuah ruangan di stadion lebak bulus, Jakarta. Beliau juga menuturkan bagaimana  Intel Indonesia menjadi sponsor pertama ketika detikcom baru beberapa bulan berjalan (3 bulan kalau tidak salah), dengan tarif 6 juta sebulan dikontrak 2 tahun (6 juta di tahun ’98 itu lumayan lho 😯 ). Berangkat dari kederhanaan disertai kerja keras, detikcom perlahan-lahan diakui sebagai web portal yang punya jutaan visitor setiap harinya dengan ratusan karyawan yang lebih banyak kerja di lapangan ketimbang di kantor. Apalagi semenjak Trans Corp mengakuisi detikcom dengan nominal fantastis, “ cukup untuk 7 turunan bahkan lebih “, tukas Pak Budiono yang berpenampilan casual pagi itu.

Ilmu lain yang tak kalah menarik yang saya dan teman-teman lain dapatkan diantaranya penjelasan yang dibawakan Mas Andi Sururi. Pria berambut gondrong itu menjelaskan serba-serbi menulis. Mulai dari apa saja kendala dalam menulis, bagaimana memulai, mantapkan tujuan, bagaimana ide itu bisa datang, dan masih banyak lagi.

  • Motivasi menulis: Ekspresi, dokumentasi, unjuk diri, berbagi

  • Kendala menulis:

1. Terlalu banyak ide ( Menepilah sejenak, endapkan sejenak. Cari solusi tapi jangan terlalu lama )

2. Bingung dgn kalimat pertama

3. Takut hasilnya tak sesuai

4. Menulis itu susah kalau terbebani, malas (kurang usaha), menyerah.

“Biarkanlah kata-kata menemukan jalannya sendiri” “menulis itu juga soal mental”

Mas Dito yang menjelaskan bagaimana Indonesia sebenarnya punya banyak SDM berkompeten dalam pembuatan dan pengembangan aplikasi mobile yang saat ini tengah populer. Pak Ginting yang mempresentasikan Buku Sekolah Elektronik (BSE) hasil pengembangan ia dan timnya. Mbak Ardiana yang berpengalaman sebagai produser reality show ‘Jika Aku Menjadi’ dan saat ini sebagai  Executive Producer Detik TV menjelaskan dan memberi contoh bagaimana membuat video mengangkat tema sisi lain Indonesia dari sudut pandang berbeda. Acara ditutup dengan foto bersama dan penyerahan hadiah Samsung Galaxy Young ke salah satu mahasiswa yang beruntung. Palingindonesia.com , web itu saya akses setelah talkshow itu usai tidak lama kemudian. Memang didalam web tersebut banyak artikel, video, serta mobile apps buatan anak negeri yang banyak menginspirasi. Terutama di kategori kontributor tulisan, hmm kayaknya tertarik ikutan juga nih.

(bfa)

Advertisements

Posted on 20.11.2013, in My Stories, Techno|internet and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Comments.

  1. keren, bang! wuuuh jadi mupeng ikutaaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: