Advertisements

The Journey of Situbondo : Sejuknya Pantai, Gerahnya Savana

#DSC07040

Kusambut pagi dengan bangun dari tidur sembari melihat layar hp. Memastikan hari itu benar tanggal 24 Agustus. Ditemani sang fajar yang mulai pancarkan kehangatan, berdoa semoga perjalanan hari ini sampai besok berjalan lancar. Sekitar jam setengah 11 pagi, setelah sarapan dan bersiap diri, dari daerah kos di kertosariro saya berangkat menuju perbatasan Malang-Pasuruan. Sebagaimana weekend biasanya, jalanan waktu itu sangat padat. Singkat cerita setelah semua berkumpul di dekat gapura Lawang, Malang., menjelang siang hari saya berangkat bersama teman-teman lain menuju destinasi utama. Situbondo, dengan aneka tantangan yang akan kami hadapi selanjutnya.

Saya, Mas Arif, Mas Fauzi, dan Mas Wiro tampak menikmati jalur Pasuruan-Probolinggo yang kami lewati di siang yang cerah itu. Ishoma di Probolinggo sekaligus bertemu dengan rekan lain dari Gresik, yakni Kang Heri dan Mas Mario. Semakin sore rute yang kami lewati semakin menyajikan pemandangan yang membuat takjub. Terutama saat melewati Jalan lebar berkelok, ditambah pemandangan pantai, pepohonan serta tebing-tebing kokoh. Belum selesai menikmati pemandangan yang subhanallah itu, tampak di depan ada komplek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton yang makin membuat takjub. Tower tinggi yang entah difungsikan sebagai apa itu, seakan memberi semangat bagi kami yang menempuh perjalanan berjam-jam lamanya. Kalau malam hari, pembangkit listrik yang mensuplai listrik jawa-bali itu dihiasi lampu-lampu yang mampu memberi keindahan di gelapnya malam.

Melewati PLTU Paiton dengan pipa-pipa besar menjulur ke dasar laut, ditambah mesin-mesin besar yang jarang saya lihat, menjadi pertanda bahwa kami mulai sampai tempat tujuan. Apalagi hari makin sore. Memang begitu melewati gapura bertuliskan ‘Selamat Datang di Situbondo’ serta pemandangan pantai utara, jadi penyemangat tersendiri bagi kami untuk terus memacu si kuda besi. Terbukti dari aksi yang dilakukan para “rider”  berebut posisi depan (tapi tetap saja paling depan ya yang tau jalan). Jarang-jarang aksi salip menyalip view-nya pantai , berasa di Sirkuit Philip Island, Australia. Hehe . . .

DSC06950

Alhamdulilah kami akhirnya tiba di daerah pantai pasir putih Situbondo. Sempat kebablasan, kami akhirnya sampai di Hotel Sidomuncul 2. Kalau gak salah sekitar setengah 5 sore itu. Capek ? gak juga. Bertemu rekan-rekan lain jadi obat pengusir lelah. Setelah saling beramah-tamah dan melepas rindu (ce’ileh), kami bergerak menuju pantai yang tidak jauh dari dua kamar yang kami pesan. Daannn sudah saya duga sebelumnya, mereka-mereka sudah siap dengan perangkat kameranya masing-masing. Yang ini dicolokin kesini, yang itu disambungin kesitu, terus disatuin, dan jadilah seperangkat alat jepret lengkap dengan tripodnya. Cukup geleng-geleng aja sih, emang canggih mereka *sambil ngeliatin si kamera pocket* , meski kecil tapi liat dulu siapa yang bawa, haha 😈  . Kami terlena sunset yang perlahan mulai turun tanah dengan indahnya. Teman-teman lain yang sibuk dengan kamera beserta tripodnya tampak seperti petugas pengamat hilal. Sempat kami bercanda kalau bulan sudah terlihat berarti nanti malam kita tarawih .

DSC06978

Hari sudah gelap berganti malam, setelah magriban dan santai sejenak, kami bersepuluh pergi bersama mengisi perut dulu di daerah warung pinggir jalan, tidak jauh dari penginapan. Meski menu nasi goreng yang saya pesan kurang begitu maknyus di lidah, kebersamaan kami di tempat makan yang pemiliknya orang madura itu sangat terasa. Makan gak makan asal ngumpul. Ditambah televisi yang sedari tadi menyala memberi hiburan kepada pengunjung yang datang, kebetulan lagi nayangin program yang ada keep smile-nya, untung kami masih bisa jaga diri tidak joget caesar bareng.

Singkat cerita sekitar setengah 10 malam, kami berkumpul di satu ruangan tivi yang merangkap sebagai kamar tidur, di salah satu kamar yang kami sewa. Disini acara ramah tamah dimulai, pembukaan diawali sambutan penyelenggara acara, Kang Ulid dan Kang Karis. Dilanjutkan perkenalan diri semua yang datang waktu itu, termasuk saya. Seperti biasa, acara serius seperti ini selalu disertai canda tawa 🙂 . Ya inilah kami JatimOtoBlog, komunitas blogger jawa timur dimana tiap bloggerpersonal punya cerita sendiri akan kehidupannya, haha. Malam makin larut , beberapa teman ada yang memilih otak atik kamera diluar. Sebagian lagi memilih rebahan di kasur, tatapan kosong, dan kemudian terpejam.

Hari Kedua

Keesokan harinya disambut segarnya udara pagi pantai utara dengan riak ombak yang kalem seolah menyapa “selamat pagi bro” . Usai subuhan dan nyawa benar-benar udah ngumpul, saya keliling sekitar pantai menikmati setiap momen damainya alam, lepas dari hiruk pikuk kendaraan. Setelah mandi dan sarapan di jam 7 , satu persatu kendaraan diparkir di halaman depan untuk mengikuti sesi pemotretan. Setelah itu kami membereskan barang bawaan di kamar masing-masing. Sengaja kami bergegas pagi itu supaya lebih banyak waktu yang bisa dimanfaatkan nantinya. Yap, bersiap menuju next destination yang juga sebagai klimaks perjalanan kami selama dua hari ini, Taman Nasional Baluran.

klik page 2 dibawah untuk cerita kelanjutannya 🙂

Advertisements

Posted on 16.12.2013, in My Stories, Travel and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Yang punya warung lagi sibuk ini sepertinya sampai baru rilis :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: