Advertisements

Ronny Gani & Rini Sugianto , Dua dari Banyak Animator Indonesia Yang Sukses Di Luar Negeri

courtesy: tempo.co

Melihat film animasi buatan anak negri yang tayang di tv, sebenarnya animator Indonesia tidak kalah saing dengan animator luar. lihat saja garapan mereka untuk event festival animasi ataupun orderan dari klien untuk iklan produk mereka. Hanya saja tidak semua agensi mau mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas. Lihat saja film-film kolosal yang tayang di tv nasional, pemeran utama naik naga yang gerakannya masih kaku, serta kualitas rendering yang terkesan dibikin apa adanya. Para animator itu dikejar deadline dimana film tayang hampir setiap hari. Lantas apakah animator Indonesia bisa membuat karya yang diakui secara internasional? Sangat bisa!. Ronny dan Rini contohnya.

Ronny Gani, salah satu animator yang ikut berpartisipasi dalam film ‘Pasific Rim’ yang tayang beberapa bulan lalu. Ronny kerja di di Industrial Light & Magic, di Singapura, anak perusahaan Lucas Film Group,  tepatnya di bagian visual effect, dimana membuat gerakan karakter animasi bisa serealis mungkin. Sebelumnya sarjana S1 Arsitektur UI ini pernah terlibat pula dalam penggarapan ‘The Avengers’ tahun 2012 kemarin, dimana ia dan rekan kerjanya di grup Industrial Light & Magic itu mengerjakan bagian akhir yakni di konfilk, dimana alien mulai menginvasi bumi.

Rini Sugianto, animator perempuan yang bekerja di perusahaan milik sutradara Peter Jackson, WETA Digital, di Selandia Baru, ikut dalam pengerjaan film ‘Hobbit: the Desolation of Smaug’ yang baru saja dirilis. Sebelum film sekuel ini, ia juga terlibat penggarapan film Hunger Games: Catching Fire , Iron Man 3, The Avengers , The Adventures of Tintin dan Planet of the Apes.

Perempuan lulusan S2 jurusan animasi dari Academy of Art di San Francisco ini menuturkan bahawa sekitar 1200 karyawan WETA Digital ikut terlibat di film kedua The Hobbit ini. Ia mengaku menghabiskan waktu enam bulan untuk pengerjaan yang ia kerjakan yakni dibagian dragon (smaug), dengan waktu bekerja hingga 90 jam seminggu. Sebagaimana dilansir VOA Indonesia, setelah berhenti kerja di WETA Rini ingin mengembangkan program mentoringnya. Dimana ia ingin mengadakan program beasiswa bagi orang-orang yang kurang mampu, namun tertarik untuk belajar animasi dengannya. Selain itu perempuan 33 tahun ini juga ingin mengadakan workshop animasi di kota-kota di Indonesia.

Perjalanan kedua animator Indonesia di luar negeri tersebut bisa menjadi contoh sebenarnya animator dalam negeri itu sebenarnya punya skill yang tidak kalah saing. Kendala yang biasa dihadapi yakni kurangnya apresiasi baik itu dari pemerintah maupun dari masyarakat. Selama ini yang saya tangkap, masyarakat umumnya kurang begitu menganggap profesi animator pekerjaan yang menjanjikan. Semoga kedepannya animator Indonesia bisa diakui di negeri sendiri. Diakui sepenuhnya dari sisi kreativitas dan karir dengan pendapatan menjanjikan. Semoga!.

(bfa)

Baca juga :

Animator- Animator Asli Indonesia Di Luar Negeri

Advertisements

Posted on 31.12.2013, in Techno|internet and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. memang banyak orang pinter indonesia yang lebih mengadu nasib keluar negeri
    http://sarikurnia980.wordpress.com/2013/12/30/what-cb150-crankshaftnya-rompal/

  2. Kasih saranlah mas , saya lulusan smk angkatan 2015, pengen jadi digital artist
    Yk ma’s Ronny gani sama mbak rini sugianto 🙏🙏🙏😝

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: