Advertisements

“Ketimbang data, mending laptopku aja yang hilang!”

Lebih baik kehilangan gadget ketimbang kehilangan data. Kalimat tersebut menggambarkan momen yang saya alami beberapa bulan lalu. Komputer rumah (PC) yang menemani saya dari jaman putih biru sampai awal masuk kampus biru sudah tidak bisa dihidupkan lagi.

Setelah saya kroscek komponen daleman sepertinya hardisk yang bermasalah. Saya beli hardisk adaptor untuk membuka data hardisk dengan sambungan USB ke laptop. Percobaan pertama gak konek. hmm mungkin adaptornya rusak. Sebelumnya dari pihak toko memang udah bilang kalau hardisknya gak bisa konek ke laptop bisa dikembalikan lagi dan diganti yang baru. Setelah diganti yang baru dengan tukar tambah adaptor yang lebih mahal, nyampe rumah langsung dicoba. Kabel ini hubungkan ke itu, terus colokan power sambungin ke sana, lalu disambungin ke sini. Hasilnya ?

Tetap mati. Heran ini kenapa bisa jadi gini. Khawatir kalau data-data di dalam hardisk hilang. Beberapa minggu kemudian saya bawa ke Malang ke toko komputer yang menurut saya orangnya udah ekspert ngurusi ginian. Menurut masnya yang nyervis, hardisk komputer saya yang beratnya cukup menyusahkan saat dibawa satu ransel perjalanan jauh itu data didalamnya sudah tidak bisa diakses. Istilahnya ‘Bad Sector’. Hardisk internal itu udah terlalu sering ditimpa data dan keseringan di format ulang, dan meninggalkan bekas yang gak akan bisa hilang di piringannya. Oiya piringan di dalam hardisknya selama rusak ini mengeluarkan bunyi gesekan. Kata masnya yang nyervis, kalau piringan udah kayak gitu data didalamnya kemungkinan besar akan hilang seluruhnya. “Mati lee!” .

Sepanjang hidup komputer di rumah memang sering saya format ulang operating system-nya buat eksperimen ini itu. Paling niat ngoprek itu pas jaman SMP. Maklum namanya baru punya komputer, tangan gatel pengen otak-atik.. Kembali ke cerita, saya keluar dari tempat servis dengan tampang berusaha tegar namun hati amburegul. Rasanya gak percaya akan kehilangan data yang sedemikian masive kenangan di dalamnya. Dari mulai jaman smp sampai kuliah tahun pertama. Dari dokumen seperti proposal, catatan tugas, absensi, foto dokumentasi, video jaman sekolah hilang semua!. Lemas.

DSC01426

Kejadian seperti ini terulang lagi beberapa bulan setelahnya, laptop saudara yang saya gunakan selama kuliah karena belum punya laptop sendiri, mendadak tidak bisa booting. Setelah saya bawa ke Acer center teryata diketahui bahwa hardisk internalnya yang tipis itu rusak. Entah karena umur atau memang karena daya tahan komponen itu yang kurang sip. “ Yah kejadian lagi kayak gini”, batinku. Tapi untungya sebagian data bisa diselamatkan dengan menggunakan OS linux (booting via DVD drive). Tapi kejadian yang ini serasa tidak ada apa-apa dibanding sebelumnya 😐 .

Dua kali kena apes membuat kepekaan makin tinggi. Kalau dirasa drive atau memori seperti ada masalah. Seperti ada perintah format ulang, dsb. wah mesti secepatnya mem-back-up. Memang harga seluruh data itu tak ternilai. Kalimat penutup saya kutip dari salah satu teman.

“Ketimbang data , mending laptopku aja yang hilang!” tutur Bunga (21 tahun).

Semoga kisah ini menjadi inspirasi kita semua *halah

(bfa)

Advertisements

Posted on 26.09.2014, in My Stories, Techno|internet and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: