Advertisements

Menanggapi Acara Nikahan Selebritis di TRANS TV Kapan Hari

Nikahannya Raffi Ahmad sama Nagita Slavina kemarin berbuntut panjang. Berhubung jarang liat tipi di kosan kurang tau kayak gimana nikahannya. Tapi ngelihat dari acara sejenis yang dulu juga pernah ditayangin juga, kayaknya acaranya gak jauh-jauh dari kemegahan disana-sini dengan tamu undangan berdandan heboh berebut cari perhatian. Syukur-syukur disorot kamera. Kemarin saya baca postingan dari remotivi, yakni lembaga yang mengawasi tayangan di tv nasional, tentang acara nikahan yang diliput 2 hari di Trans TV dengan alasan perampasan frekuensi publik.  

Pelecehan publik adalah ketika empat belas jam sehari digunakan untuk menyiarkan rangkaian pernikahan sepasang selebritas di televisi. Dengan menyiarkan secara langsung pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina Tengker, Trans TV sebenarnya sedang menyalahgunakan kuasanya dalam mengelola frekuensi publik. Hak publik untuk mendapatkan manfaat dari pengelolaan frekuensi publik menjadi terabaikan. Kasus ini sebangun dan serupa dengan pemakaian frekuensi publik untuk kepentingan politik sektarian pada Pemilu lalu.

Dimiliki oleh pengusaha cum Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung, Trans TV sudah menampilkan segmen live eksklusif bertajuk Menuju Janji Suci di dua tayangan regulernya, Insert dan Show Imah sepanjang 6-15 Oktober lalu. Segmen ini merenik persiapan Raffi dan Nagita sebelum naik ke pelaminan. Puncak dari hajatan ini adalah ditayangkannya proses pernikahan tersebut secara langsung selama dua hari dua malam pada 16-17 Oktober, sejak pukul 08.00 hingga 22.00. Empat belas jam per hari.

Apa yang kita lihat dalam siaran langsung pernikahan tersebut adalah penyalahgunaan frekuensi publik yang dilakukan secara telanjang dan sewenang-wenang. Ironisnya, bukan sekali ini saja hal ini dilakukan oleh stasiun televisi. Kami mencatat, pada 2012 lalu, RCTI meluncurkan tayangan bertajuk Jodohku (20 Mei), dengan menayangkan resepsi pernikahan Anang Hermansyah dengan Ashanti selama selama tiga jam penuh. Ketika itu,kami mengutuk tayangan tersebut sebagai pemanfaatan frekuensi publik untuk kepentingan privat yang tidak punya manfaat sama sekali bagi publik.

Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tentang Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) pada mukadimahnya menimbang “…agar pemanfaatan frekuensi radio sebagai ranah publik yang merupakan sumber daya alam terbatas dapat senantiasa ditujukan untuk kemaslahatan masyarakat sebesar-besarnya”. P3 pasal 11 juga menyatakan: “Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kemanfaatan dan perlindungan untuk kepentingan publik.” Terlebih pada SPS pasal 13 ayat 2 menyatakan bahwa, “Program siaran tentang permasalahan kehidupan pribadi tidak boleh menjadi materi yang ditampilkan dan/atau disajikan dalam seluruh isi mata acara, kecuali demi kepentingan publik.” Memang, aturan tersebut tidak mengatur secara definitif tentang muatannya. Maka itu, dibutuhkan keberanian KPI, sebagai regulator, untuk menafsirkan lebih jauh semangat dari UU Penyiaran dan pasal per pasal di P3-SPS. Ketidaksempurnaan aturan harus diatasi KPI dengan bekerja melampaui aturan yang bersifat teknis. Tafsir yang progresif itu nantinya bisa menjadi bekal bagi KPI untuk tak ragu-ragu dalam bertindak.

Frekuensi elektromagnetik yang dipakai untuk bersiaran televisi dan radio adalah sumber daya alam yang terbatas. Keterbatasan ini membuat banyak sekali stasiun TV dan radio, baik lokal maupun komunitas, kesulitan atau bahkan tidak memperoleh izin penggunaannya. Karena keterbatasan serta peran pentingnya sebagai medium komunikasi massa ini pula, setiap pemegang izin siar melalui gelombang frekuensi televisi dan radio, punya kewajiban untuk menyaring setiap informasi dan konten yang ia tayangkan agar sesuai dengan kepentingan publik. Sebab itu, menyiarkan pernikahan selebritas ini adalah arogansi perusahaan televisi Jakarta yang melukai rasa keadilan banyak pihak yang belum berpeluang mendapat izin pengelolaan frekuensi.

. . . (link)

Selain mendapat teguran dari remotivi. Tampaknya masyarakat juga banyak yang protes. Bisa dilihat di sosmed seperti di FB, twitter, path dll. Intinya yang dikeluhkan satu, orang yang punya duit banyak bisa tampil di tivi layaknya orang yang punya tivi. Uang bisa membeli segalanya. Di sisi lain bisa jadi tayangan nikahan artis yang sering ditayangkan di tv menjadi acuan standarisasi pernikahan di masyarakat yang makin melupakan kesederhanaan. Alias makin kearah hedonisme. Namun dibalik berbagai dampak negatif itu, saya menangkap posiifnya. Adalah penting bagi anak muda untuk bekerja keras hingga pada satu waktu dapat menikmati jerih payahnya sendiri.

Tayangan nikahan ini juga tak lepas dari bisnis. Rating Trans TV pasti melejit. Banyak iklan mengantri. Bisa dibilang saling memanfaatkan antar pemilik modal. Kerjasama antara yang punya tivi sama yang biasa masuk tivi.

Meski sebagian ada yang berpendapat “ngapain repot ngurusi satu tivi, kalau gak suka ya tinggal ganti aja. channel tivi gak cuma satu bos!”. Bagaimanapun juga ini tetap pelanggaran. Publik berhak mendapat akses tayangan dengan landasan kepentingan publik. Bukan kepentingan kelompok atau perseorangan. Semoga kedepannya akan ada langkah tegas dari KPI untuk mengatur tayangan nikahan yang perjalanan kedepannya belum tentu akan semegah resepsinya.

(bfa)

Selamat ya gaeees! 😀 #dagelan

A post shared by :Dagelan – Asikin aja lagiii (@dagelan) on

Advertisements

Posted on 18.10.2014, in My Stories and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. solusi gampang… matiin tivi biar rating turun 😆

    ======
    Ducati superleggera ditantang drag race 2 hypercar

    http://yudakusuma.com/2014/10/19/ducati-1199-superleggera-ditantang-drag-race-mclaren-p1-dan-porsche-918-aliansi-hypercar/

  1. Pingback: Karena Nikah Diliput TV Nasional Itu Mulai Mainstream | Aragani dot Com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: